Pemkot Bandung akan Berikan Beasiswa Pendidikan

Bandung, GB - Dari target minimal sekolah selama 12 tahun, tingkat lama sekolah pada warga Kota Bandung hanya bisa sampai kisaran 10,81 tahun. Walikota Bandung Ridwan Kamil pun mengutarakan jika dirata-rata warganya seola-olah belum lulus SMA dari target sekolah tersebut.
Ia mengatakan jika semakin tinggi tingkat lama sekolah akan berdampak otomotasis kepada kualitas sdm dan nilai ipm (indeks pembangunan manusia) yang meningkat.
"Nah di pendidikan harus kita push, kalau kita lihat orang tidak mampu masih banyak. Mankanya harus ada keberpihakan seperti sekolah gratis buat orang tidak mampu," ujarnya di Universitas sanggabuana YPKP, Jalan PHH Mustopa saat launching beasiswa walikota khusus (bawaku) mahasiswa dan tatakelola Disdik berbasis ICT (Simdik), Selasa (29/12)
Untuk saat ini Ridwan Kamil sedang mencoba bantuan pendidikan di tingkat universitas. Pemkot Bandung akan memberikan beasiswa kepada anak-anak ber-KTP Bandung agar bisa sekolah di universitas baik Negeri atau Swasta.
Menurutnya penerima beasiswa sudah ada 981 orang dan ia berharap seiring naiknya PAD jumlah beasiswa dapat dilipatkan jumlahnya. Ia menambahkan perorangnya akan mendapatkan Rp 4 juta pertahun untuk bantuan SPP
"Karena dana terbatas sekarang beasiswanya yang tidak mampu dan pintar dulu. Mudah-mudahan dengan begitu warga Bandung regreg bahwa tingkat pendidikan dijamin dengan cara berkeadilan,"ungkapnya
           
Tim Pemburu Anak Putus sekolah
Dalam kesempatan itu juga sebagai upaya untuk menuntaskan anak-anak putus sekolah di Bandung, dirinya sudah menawarkan kepada YPKP agar bisa membantu Pemkot Bandung dan Disdik untuk menemukan anak-anak yang terancam putus sekolah.
 "Ini sudah 6 bulan berjalan, yang dibutuhkan itu data anak putus sekolah. Karena kadang-kadang anak yang putus sekolah mencar sana-sini,"ucapnya.
Sedangkan ditempat yang sama menurut Kadisdik Kota Bandung Elih Sudiapermana, dari 6 bulan tersebut sudah terjaring 500-an anak yang putus sekolah. Untuk saat ini dirinya sedang menjajaki dengan Karang Taruna dan PKK yang mendapatkan bantuk PIPPK untuk mendukung dan menyekolahkan kader-kadernya.
"Ternyata banyak kader-kadernya sekolahnya belum lulus SMA,"terangnya.
Ia pun menyampaikan dari 500-an orang yang berhasil terjaring tersebut memilih untuk tidak ke tingkat SMA, dikarenakan mereka sudah bekerja dan berpenghasilan. Sehingga jika mereka bersekolah akan menganggu waktu kerjanya.
Maka dari itu ia menawarkan sekolah reguler non formal yang masuk dari jam 7 dan pulang jam 2 siang. Karena diwaktu tersebut adalah waktu-waktu mereka berpenghasilan. Dirinya menawarkan sekolah paket C.
"Kita menawarkan sekolah non formal paket C, yang sekolahnya bisa atur jam belajarnya. Tapi kita mash sosialiasikan paket C ini ke mereka di kewilayahan-kewilayahan,"pungkasnya