Bandung, GarduBerita - Prestasi yang diraih siswa di bidang non-akademis tak lepas dari peran guru. Selain mengajar, guru harus berperan aktif dalam menjembatani keinginan siswa dengan manajerial pihak sekolah.
Hal tersebut diperankan optimal oleh guru SMKN 2 Kota Tasikmalaya, Dicky Nurul Ilham. Ia adalah guru di balik kesuksesan Alwan Hanif Ramadahan yang menorehkan prestasi di ajang internasional berkat inovasi yang dibuatnya, yakni Affordable Smart Prosthetic Arm.
Bertugas sebagai pembimbing tim riset teknologi di sekolah, Dicky menjalankan tugasnya dengan baik sebagai penghubung antara siswa dan pihak sekolah.
"Kalau ada informasi lomba, kita akan kaji bersama. Kalau oke, tinggal dikomunikasikan dengan pimpinan di sekolah," tuturnya saat dihubungi, Kamis (16/1/2020).
Pembimbing juga, lanjutnya, berperan memantau sekaligus mengawasi aktivitas siswa dalam menjalankan suatu proyek, baik dalam mengikuti perlombaan ataupun kegiatan lainnya. Bahkan, guru lulusan Universitas Negeri Yogyakarta tersebut menerapkan matrikulasi kegiatan dalam manajerial pembagian waktu siswa antara kegiatan akademis dan non-akademis.
"Kita sudah buat jadwal per hari yang harus dilakukan siswa. Hari ini bikin apa, besok ngeberesin apa. Jadi, dalam pengawasan, pembimbing juga bisa mengevaluasi," ungkapnya.
Meski demikian, pengajar mata pelajaran mekatronika ini mengedepankan kemandirian bagi siswanya. "Tugas saya hanya mendampingi siswa, mulai dari awal pencarian informasi, proposal hingga presentasi rencana ke pihak sekolah. Hal ini saya lakukan agar mereka tahu bagaimana cara berbirokrasi yang benar," ujarnya.
Namun, lanjutnya, hal tersebut harus disertai dukungan sekolah. Ia menilai, sekolahnya memiliki komitmen yang kuat dalam proses tersebut. "Sekolah akan selalu mendukung dan memberi modal selama siswa mampu berproses dengan bagus. Kalau proses sudah bagus, tentu hasilnya juga akan bagus," pungkasnya.*

