Bandung, GB - Posyandu Wijayakusumah mempunyai lebih dari 15 inovasi yang lantas
menghantarkannya menjadi delegasi Jawa Barat pada Lomba Posyandu tingkat
nasional. Wali Kota Bandung M. Ridwan Kamil mengatakan, inovasi
tersebut merupakan hasil dari perubahan pola pikir yang pemerintah kota
tanamkan kepada para kader.
“Bagi pemerintah kota, menjadi yang terbaik itu tidak hanya sebatas
memberikan fasilitas fisik. Tapi pertama, yang saya ubah adalah pola
pikirnya, yaitu bagaimana setiap lembaga harus bisa berinovasi dalam hal
apapun, bermula dari pemecahan masalah,” ujar Ridwan saat memberikan
sambutan pada verifikasi Lomba Posyandu Tingkat Nasional yang dihadiri
langsung oleh tim verifikasi di Posyandu Wijayakusumah, RW 13 Kelurahan
Sekeloa, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, Senin (17/4/2017).
Posyandu yang melayani 119 bayi dan balita pada 2017 ini memiliki
banyak program inovatif. Salah satunya adalah Kasaba (Kader Sayang
Balita) yang memberikan layanan pijat bayi, sekaligus melatih para orang
tua untuk memijat bayinya sendiri. Program yang bekerja sama dengan
Rumah Sakit Borromeus itu bertujuan agar bayi selalu sehat, nyaman, dan
meningkatkan kualitas penyerapan Air Susu Ibu (ASI).
Selain melakukan pijat bayi di Posyandu, ada pula layanan online
Kasaba di mana para kader bisa dipanggil untuk melakukan pijat di rumah.
Pada saat memberikan pelayanan, para kader juga akan memberikan
penyuluhan dan konsultansi mengenai kesehatan dasar bagi ibu dan anak.
Selain program-program kesehatan dasar, Posyandu Wijayakusumah juga
menambah meja baru setiap hari buka Posyandu. Meja tersebut diisi dengan
desk layanan konsultansi bagi anak berkebutuhan khusus oleh psikolog
yang didanai dari swadaya masyarakat. Warga yang melakukan konsultasi
tidak dipungut biaya apapun. Di meja yang sama, warga juga bisa
mendapatkan pengetahuan tentang perlindungan ibu dan anak serta
kesehatan reproduksi.
Ada pula meja layanan konsultansi ekonomi bagi warga yang dating ke
Posyandu. Di sana, warga yang memiliki karya untuk dijual bisa
memanfaatkannya untuk media promosi dan ruang pamer. Tak jarang warga
memanfaatkan desk ini untuk berbagi informasi seputar bidang sosial dan
ekonomi.
Melalui dana swadaya masyarakat dan donasi, Posyandu Wijayakusumah
juga memiliki fasilitas ambulans yang tidak hanya digunakan untuk RW 13
saja, tetapi untuk siapapun yang membutuhkan. Ambulans tersebut
seringkali digunakan untuk mengantar jenazah dan untuk keadaan darurat.
Ketua Posyandu Wijayakusumah Imas Masriah mengatakan, dalam setahun
pihaknya juga melaksanakan program lain di luar urusan bayi dan balita,
seperti pemantauan jentik nyamuk untuk mencegah penyakit demam berdarah.
Ada pula tim Pos Patih, atau Pemantau Kebersihan, yang bertugas untuk
berkeliling di sekitar RW untuk mengajari anak-anak agar membuang sampah
pada tempatnya. “Kami kerahkan kader di tiap RT agar setiap orang sadar akan
pentingnya kebersihan dan membuang sampah pada tempatnya,” tutur Imas.
Inovasi lainnya yang dilakukan Posyandu Wijayakusumah adalah program
Dana Sehat. Program ini semacam dana asuransi kesehatan bagi warga.
Dengan premi sebesar Rp500 per jiwa, Posyandu ini telah memiliki dana
kesehatan untuk masyarakat sebesar Rp15.250.000. “Anggotanya saat ini sudah mencaai 80% dari jumlah penduduk,” imbuh Imas.
Sejalan dengan konsep smart city yang diusung pemerintah kota,
Posyandu Wijayakusumah juga sudah terkoneksi dengan e-Posyandu. Program
ini merupakan portal database kesehatan bayi dan balita se-Kota Bandung
yang langsung terkoneksi ke Dinas Kesehatan.
“Jadi jika ada bayi atau balita yang menunjukkan tanda-tanda
penurunan kualitas gizi, ada notifikasi ke Dinas Kesehatan agar segera
diberikan penanganan,” jelas Imas.
Inovasi-inovasi tersebut diapresiasi oleh tim verifikasi dari
pemerintah pusat. Ketua tim verifikasi Aam menilai bahwa Posyandu
Wijayakusumah telah sejajar dengan Posyandu-posyandu terbaik di tingkat
nasional.
“Tahun ini ada 6 posyandu yang menjadi nominator Posyandu terbaik di
tingkat nasional, yaitu Kota Bandung di Jawa Barat, Bandar Lampung di
Provinsi Lampung, Samarinda di Kalimantan Timur, Mojokerto di Jawa
Timur, Solok di Sumatera Barat, dan Pagar Alam di Sumatera Selatan,”
katanya.
**

