BANDUNG, Garu Berita - Memasuki tahun kedua kepemimpinan Wali Kota Muhammad Farhan, program Bandung Utama bergeser dari penataan fondasi menuju penguatan dan perluasan dampak pembangunan.
“Tahun pertama menata tata kelola, data kewilayahan, dan percepatan intervensi berbasis kebutuhan warga. Tahun kedua fokus pada aksi nyata agar pembangunan benar-benar menjawab kondisi riil kota,” ujar Farhan, Kamis 20 Februari 2026.
Pemkot Bandung membangun kebijakan berbasis data melalui Layanan Catatan Informasi RW (LACI RW). Survei mencakup hampir 9.900 RT di seluruh kota, menjadikan RT dan RW sebagai sumber informasi utama untuk kebijakan yang lebih presisi.
Data yang dihimpun mencakup:
- Sosial dan demografi
- Infrastruktur dan lingkungan
- Kesehatan dan sanitasi
- Ekonomi dan ketenagakerjaan
- Kelembagaan lokal
Program Prakarsa Bandung Utama menjadi motor implementasi di tingkat RW, menjangkau 151 RW di 30 kecamatan, dengan lebih dari 1.000 kegiatan dan realisasi anggaran 96% pada 2025. Sebanyak 697 RW aktif menjadi penggerak pembangunan lokal, diperkuat dengan aktivasi kembali siskamling sebagai simpul keamanan dan kepedulian sosial.
Fokus tahun kedua mencakup pembangunan infrastruktur strategis dengan target:
- 100% ODF dan akses air aman
- Zero slum area
- Reduksi titik genangan 40%
- Kemantapan jalan 95%
Infrastruktur juga dirancang sebagai stimulus ekonomi lokal melalui skema padat karya dan penguatan rantai pasok.
Transformasi UMKM, penguatan ekosistem pariwisata, dan inklusivitas ekonomi menjadi pilar kedua untuk menekan ketimpangan dan mendorong pertumbuhan ekonomi merata. Analisis desil menunjukkan pertumbuhan tertinggi terjadi pada 4.994 keluarga baru di desil 6–10 pada September 2025–Februari 2026.
Pilar ketiga berfokus pada ketenagakerjaan:
- Target 5.000 sertifikasi kompetensi per tahun
- Tingkat penyerapan kerja 92%
- Perlindungan 100% bagi pekerja rentan
Program ini diyakini mempercepat mobilitas sosial vertikal warga Bandung. Tahun pertama ditandai pencapaian Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atas Laporan Keuangan 2024, menegaskan tata kelola dan akuntabilitas yang solid.
“Tahun pertama menata fondasi, tahun kedua memperluas dampak. Semua kebijakan berbasis data, langsung terasa di RW dan RT, agar pembangunan inklusif dan berkelanjutan,” tutur Farhan.
Dengan pendekatan ini, Bandung Utama memastikan pembangunan tidak hanya tercatat di angka, tetapi dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat hingga tingkat terkecil di kota.

