Sirkular Bandung Utama: Dari Sampah Jadi Pangan, Dari Pangan Jadi Harapan


BANDUNG, Gardu Berita - 
Satu tahun perjalanan Program Sirkular Bandung Utama menandai transformasi nyata dalam lingkungan dan ketahanan pangan di Kota Bandung.

Melalui kolaborasi tiga program utama, Kang Pisman, Buruan SAE, dan Dapur Dashat, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menghadirkan solusi terintegrasi dari hulu ke hilir: mengelola sampah, menanam pangan, hingga memenuhi gizi keluarga.

Ketiga program tersebut digabung dalam ekosistem bernama Karasa:

  • Kang Pisman (Kurangi, Pisahkan, Manfaatkan) → pengelolaan sampah organik dan non-organik.
  • Buruan SAE (Sehat, Alami, Ekonomis) → urban farming untuk ketahanan pangan keluarga.
  • Dashat (Dapur Sehat Atasi Stunting) → dapur sehat untuk pemenuhan gizi anak dan keluarga.

Sistem ini sederhana namun berdampak: sampah organik diolah menjadi kompos → kompos menyuburkan tanaman → hasil panen masuk dapur sehat → sisa dapur kembali diolah.

Wali Kota Muhammad Farhan menegaskan, tantangan utama saat ini adalah pemerataan Dapur Sehat Atasi Stunting di setiap RW dan kelurahan.

“Kalau Buruan SAE dan pengolahan sampah rata-rata sudah ada, sekarang fokus memastikan setiap kelurahan memiliki Dashat,” ujar Farhan, Sabtu 21 FEbruari 2026.

Pemkot Bandung menyiapkan skema khusus agar seluruh kelurahan, termasuk yang memiliki keterbatasan lahan, tetap bisa ikut serta dalam sistem sirkular ini.

Salah satu warga kelurahan Mekarjaya, Opi S. Inayah mengatakan, Buruan SAE menjadi sumber pangan keluarga. Hasil panen dimanfaatkan untuk dapur sehat. Gerakan ini sangat terintegrasi.

Di Kelurahan Mekarjaya, rantai sirkular berjalan utuh: sampah diolah jadi kompos → kompos menyuburkan kebun → hasil panen masuk dapur sehat → sisa dapur kembali dikelola. Model ini membuktikan perubahan bisa dimulai dari tingkat kelurahan, halaman rumah, dan dapur warga melalui kepedulian bersama.